Akhirnya saya sadar juga

Saya sedang belajar memakai Ubuntu. Namun, bukan hanya sekedar “memakai” saja. Lebih dari itu. Terdengar berlebihan dan lebay memang, namun saya tidak begitu peduli apa yang dikatakan orang. Yang jelas saya sedang belajar untuk tidak memakai produk ilegal yang bukan hak saya, seperti sistem operasi, film, WordPress themes, lagu, app smartphone, dll karena itu sama saja dengan (mohon maaf), pencurian.

Frontal memang. Tapi ya memang begitu, pencurian di ranah digital. Jika tidak disebutkan seperti itu, maka akan terus berulang dan berlanjut tanpa adanya perubahan, ngga sadar, sehingga nantinya malah keenakan. Dan akhirnya kecanduan. Dan ketergantungan. Saya gak mau seperti itu. Saya harus bisa berubah. Tentunya menjadi orang yang lebih baik lagi.

Memang, kodrat manusia adalah tempatnya salah, namun kesalahan menggunakan produk ilegal ini sering dianggap hal yang sepele oleh kebanyakan orang. Namun menurut saya hal tersebut tidak bisa dianggap hal yang sepele, itu merupakan kesalahan besar.

Beberapa tahun ke belakang ketika saya pertama kali pegang komputer dan mulai belajar, saya langsung dikenalkan dengan sistem operasi Windows, dan saya tidak tahu itu Windows asli atau bajakan karena masih lugu dan polos. Boro-boro tahu itu bajakan atau ngga, pegang mouse aja masih gugup.

Dan sekarang rasa penyesalan dan rasa syukur berkumpul menjadi satu. Menyesal karena telah menggunakan yang ilegal dan bersyukur masih dapat hidayah dari Allah karena akhirnya saya sadar juga dari kezaliman. Ada progres lah begitu.

Dahulu sebelum akhirnya sadar seperti sekarang, berarti saya setiap waktu memakai produk yang ilegal dan bajakan. Misalnya ketika sedang asyiknya pertama kali belajar CMS WordPress tentu saja kegiatan memakai themes bajakan sudah dianggap sebagai hal yang sangat lumrah terjadi (bagi saya dan lingkungan di sekitar saya).

Bukan hanya themes WordPress saja, ketika saya masih sekolah di SMK Negeri 1 Banjar itu menjadi titik puncak dalam menggunakan produk bajakan terutama software, dan yang saya heran adalah kenapa sekolah tidak menyediakan software yang legal bagi para siswanya?

Sangat disayangkan, pihak sekolah juga tidak ada niatan sama sekali untuk setidaknya mengarahkan para siswanya dari mental “gratisan” ke mental yang lebih baik, dari pola pikir yang selalu memakai bajakan ke pola pikir yang “legal”. Nawaitu-nya memang sudah di program bajakan.

Kami para siswa kebanyakan masih polos dan belum tahu lebih dalam mengenai masalah tersebut, kami hanya bisa mengiyakan apa yang Bapak Ibu guru sampaikan. Mohon maaf apabila tulisan ini terlalu frontal. Saya tidak ada niatan untuk merendahkan pihak manapun, apalagi pihak sekolah.

Kegiatan belajar di sekolah terutama ketika pelajaran produktif multimedia adalah salah satu pelajaran yang paling saya sukai, hal seperti edit foto, edit video, browsing apa saja di internet, streaming (walaupun koneksi internet lambat karena banyak orang yang akses dan juga dibatasi setiap orangnya) dan hal menyenangkan lainnya.

Bayangkan saja, yang freeware dan legal cuma browser aja. Hal lain seperti sistem operasi, penggunaan aplikasi dari keluarga Adobe seperti Adobe Premiere, Adobe Photoshop, Adobe After Effect, terus Microsoft Office, dll yang tidak bisa ditinggalkan karena aplikasi tersebut ada di dalam kurikulum, dan masih banyak lagi aplikasi lainnya. Itu semua bajakan. Jadi secara tidak langsung, timbul mental, pola pikir dan bibit yang tidak baik pada diri kami para siswa, terutama saya.

Maka dari itu, saat ini saya sedang berusaha untuk tidak menggunakan segala sesuatu yang ilegal. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk “puasa” menggunaan segala sesuatu yang bajakan. “Puasa” disitu bukan berarti puasa yang hanya dilakukan dalam 30 hari seperti puasa ramadan, namun dalam artian berhenti saat itu dan seterusnya dalam menggunakan hal-hal yang berbau ilegal.

Lalu sampai saat ini, hal apa saja yang sudah saya lakukan? Ok, perlahan saya sedang menghapus beberapa aplikasi, lagu, themes wordpress, dll dari hardisk komputer, namun sayangnya tidak bisa langsung semua di hapus akan tetapi satu-persatu. Karena ya namanya juga masih dalam tahap belajar dan masih dalam tahap penyesuaian, jadi tidak bisa langsung jebreeet hapus semuanya, atu-atu aja ya.

Oh iya, apa alasan saya sehingga saya berhenti menggunakan produk yang ilegal/bajakan? Atau mungkin hal apa yang membuat saya menjadi berhenti menggunakannya? Atau pernah dapat teguran dari vendor software yang bersangkutan?

Begini.. Alasan saya berhenti adalah saya bertanya kepada diri sendiri, “bagaimana jika karya yang sudah susah payah kamu buat dipakai atau dibajak oleh oranglain seenaknya?” Tentu ngga enak dong dan sakitnya tuh di sini..

Gini deh, misalnya ada sebuah foto hasil karyamu, udah susah kan tuh motretnya. Terus ada oranglain yang dengan sengaja memublikasikan ulang dan ditambah kredit/watermark punya dia, dan dia ngaku itu fotonya dia tanpa izin dulu ke kamu. Gimana perasaanmu?

Berangkat dari situ, hal yang membuat saya berhenti karena saya ingin belajar menghargai kerja keras dan pengorbanan para pembuat software/developer tersebut. Walaupun praktik menggunakan hal ilegal ini sudah berlangsung lama, saya belum pernah dapat teguran ataupun razia yang semacamnya karena menggunakan produk bajakan.

Untungnya, kemauan untuk berhenti itu muncul dari diri saya sendiri. Coba bayangkan kalau saya baru bisa sadar ketika hal ini diperkarakan ke pangadilan, terus hingga akhirnya di bui, kan ngeri sekali pemirsa.

Aaaah, lega rasanya sudah menulis tentang hal ini. Bagaimana dengan pengalaman teman-teman, apakah mempunyai pengalaman yang sama seperti saya atau dari awal selalu menggunakan premium stuff/legal? Share di bagian komentar ya!

PS: Sekali lagi saya tekankan, saya tidak ada maksud untuk merendahkan ataupun menyalahkan pihak manapun, baik itu pihak sekolah, pengajar, dll. Saya hanya ingin berbagi saja, bahwa ini loh yang saya rasakan. This is my thought sekalian juga curhat. Bahkan saya berharap, ada Bapak/Ibu guru yang nyasar ke blog saya dan membaca tulisan yang satu ini.